Tradisi Ngasa Kampung Jalawastu Kabupaten Brebes

 

Dukuh Jalawastu, suatu daerah terpencil dari pusat keramaian kota dan terletak dibawah kaki Gunung Kumbang, yang penuh suasana alami khas pegunungan dengan sumber air yang sangat jernih.Kampung Budaya Jalawastu merupakan sebuah komunitas adat masyarakat yang berada di antara lereng Gunung Kumbang dan Gunung Sagara.

            Komunitas ini melestarikan sebuah tradisi Sunda Jawa. Lokasi tepatnya komunitas Jalawastu di Desa Ciseureuh, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Secara geografis Desa Ciseureuh merupakan desa paling selatan dan salah satu dari 3 desa di kecamatan Ketanggungan yang kebanyakan warganya menggunakan bahasa sunda brebes. Dan hanya  sedikit yang mengerti dan bisa berbicara menggunakan bahasa indonesia.Dukuh Jalawastu sendiri berupa pegunungan terjal.

            Dukuh Jalawastu manyoritas penduduknya beragama islam, namun disana masih kental akan adat istiadat dan juga sebagian besar masyarakatnya masih menganut paham animisme dan dinamisme. Warga kampung Budaya Jawalastu pun disebut-sebut sebagai suku Badui-nya Jawa Tengah. Tapi tak seperti suku Badui yang ada di banten karena masyarakat jalawastu sudah menggunakan teknologi dari luar. Kesamaan utama menganut kepercayaan atau keyakinan Sunda Wiwitan.Sunda Wiwitan merupakan kepercayaan pemujaan terhadap kekuatan alam dan arwah leluhur (animisme dan dinamisme) yang dianut oleh masyarakat tradisional Sunda.

            Ada juga pihak yang berpendapat bahwa Sunda Wiwitan juga memiliki unsur monoteisme purba, yaitu di atas para dewata dan hyang dalam panteonnya terdapat dewa tunggal tertinggi maha kuasa yang tak berwujud yang disebut Sang Hyang Kersa yang disamakan dengan Tuhan Yang Maha Esa.

            Penganut kepercayaan ini dapat ditemukan di beberapa desa di Provinsi Banten dan Jawa Barat. Seperti di Kanekes, Lebak, Banten; Ciptagelar, Kasepuhan Banten Kidul, Cisolok, Sukabumi; Kampung Naga; Cirebon; Cigugur, Kuningan.

 

            Kehidupan di daerah Jalawastu cukup unik karena Masyarakat Jalawastu pantang makan nasi beras dan lauk daging atau ikan.Makanan pokok di tempat ini adalah jagung yang ditumbuk halus sebagai lauk dan lalapan seperti dedaunan, umbi-umbian, terong, pete, sambal dan daun reundeu yang diyakini merupakan daun yang hanya dapat tumbuh di gunung kumbang.

            Masyarakat Jalawastu tidak menggunakan piring dan sendok yang terbuat dari bahan kaca, melainkan menggunakan seng atau dedaunan. Rumah di daerah ini pun cukup unik karena tidak menggunakan semen dalam membangunnya melainkan hanya menggunakan kayu dan seng, karena masyarakat pantang untuk menggunakan semen.Satu hal lagi yang unik dari daerah ini, masyarakat pantang untuk menanam bawang merah dan kedelai serta memelihara kerbau, domba dan angsa, karena menurut pemangku adat setempat apabila ada yang melanggar maka akan mendapatkan sebuah musibah.

            Kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan di Jalawastu seperti tradisi upacara Ngasa yang dilakukan setiap satu tahun sekali. Upacara ngasa dilakukan setiap Selasa Kliwon atau Jum’at Kliwon, sedangkan tempatnya di Gedong, yaitu hutan kecil yang lokasinya berada di hulu desa.

            Arti dari Ngasa sendiri berarti perwujudan rasa syukur kepada Batara Windu Buana yang dianggap sebagai pencipta alam. Batara memiliki ajudan yang mempunyai nama Burian Panutu, semasa hidupnya tidak pernah makan nasi dan lauk pauk yang bernyawa, hal ini untuk menunjukan kebaktiannya kepada batara.

            Dalam upacara adat ngasa, warga masyarakat Jalawastu juga melakukan hal yang sama, sebagaimana yang dilakukan oleh Burian Panutus. Mereka makan bersama dengan nasi jagung dan lalapan yang merupakan hasil bumi sendiri. Dengan demikian, makna yang terkandung di dalamnya adalah kebersamaan dan kesederhanaan hidup yang penuh dengan kedamaian, sedangkan tujuannya adalah sebagai bentuk rasa syukur terhadap karunia Tuhan Yang Maha Kuasa.

            Upacara Ngasa telah dilakukan oleh warga secara turun menurun dari ratusan tahun yang lalu, upacara ini pertama kali diadakan pada masa pemerintahan Bupati Brebes XI Raden Arya Candra Negara.Upacara adat ini menunjukan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat yang telah diberikan. Hal ini hampir sama dengan adat yang di pantai yaitu sedekah laut, sedangkan untuk di darat dinamakan sedekah bumi dan untuk di daerah Jalawastu sendiri boleh dikatakan sedekah gunung.

             Prosesi Ngasa yang dilakukan masyarakat di dusun Jalawastu dilakukan di Pesarean Gedong sedangkan waktu pelaksanaannya adalah mangsa kasanga.

            Gedong tersebut merupakan hutan kecil yang didalamnya ada berbagai jenis pohon yang tinggi dan besar, dan juga ada beberapa makam keramat. Didalamnya juga terdapat sungai kecil yang konon mitosnya kalau kita cuci muka disana akan menghilang jerawat dan menghaluskan muka. Gedong ini terletak di Hulu desa.Seorang Juru Kunci Pesarean Gedong Makmur menjadi pemimpin dalam  tradisi tersebut.

            Sedangkan Mangsa kasanga adalah salah satu nama mangsa (musim) dalam Pranatamangsa (sistem penanggalan Jawa) yang umurnya mencapai 25 hari (1-25 Maret). Pranatamangsa ini berbasis pada peredaran matahari dan siklusnya serta memuat berbagai aspek fenologi dan gejala alam lainnya yang dimanfaatkan sebagai pedoman dalam kegiatan usaha tani maupun persiapan diri menghadapi bencana (kekeringan, wabah penyakit, serangan pengganggu tanaman, atau banjir) yang mungkin timbul pada waktu-waktu tertentu

            Pengaruh mangsa kasanga terhadap semesta alam maupun manusia adalah sebagai suatu pertanda kehidupan. Selain itu, mangsa kasanga berada dalam penguasaan Batara Bayu yang mempunyai kekuasaan mengendalikan angin, dan bertepatan dengan musim penghujan sehingga memberikan harapan tersiarnya berita bahagia dalam kehidupan umat manusia..

             Jauh – jauh hari sebelum ngasa dimulai, para perangkat desa sudah menyebarkan undangan ke Instansi – instansi yang ada di daerah Brebes. Sehari sebelum acara tersebut berlangsung masyarakat sekitar biasanya mencari lalapan dan membuat nasi jagung. Nasi jagung dan lalapan merupakan hasil bumi yang akan dihidangkan sebagai menu wajib acara ngasa tersebut. Dan para sesepuh desa dan tokoh agama bisannya mengunukan pakian serba putih seperti para kyai.

            Ngasa dimulai dari pukul 06.00 pagi sampai dengan selesai. Masyarakat dukuh Jalawastudan masyarakat sekitar seperti dukuh Garogol dan dukuh Salagading berbondong – bondongmenuju Gedong. Setelah para tamu undangan datang acara ngasapun dimulai dengan hikmat.Sambutan demi sambutan dari kepala desa, ketua panitia dan perwakilan daerah mengisijalannya acara tersebut.

            Puncak ritual Ngasa adalah pembacaan doa yang dipimpin oleh 3 orang pemuka adat dukuh Jalawastu. Pembacaan doa dilakukan sekitar 10 menit, doa dibacakan dalam bahasa Sunda. Setelah pembacaan doa dilanjutkan dengan makan bersama dengan hidangan yang telah dipersiapkan oleh ibu-ibu. Makanan disiapkan dalam bakul-bakul yang secara umum berisi nasi yang terbuat dari jagung, sayur dari daun-daunan atau rebung, sambal dan lalapan. Para peserta makan dengan alas daun pisang atau piring dari anyaman bambu.

            Dalam upacara adat ngasa biasanya juga diadakan pengukuhan kepada Tokoh Adat Kehormatan kepada seseorang yang telah membantu mengembangkan tradisi Ngasa. Selain itu, penyelenggaraan upacara adat ngasa juga dimeriahkan dengan berbagai kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang di dukuh Jalawastu

            Acara ini diakhiri dengan pembacaan doa oleh juru kunci Gedong dan selanjutnya makan – makan bareng dengan menu nasi jagung dan lalapan khas acara ngasa.Anehnya sebelum acara dimulai tadi tidak boleh makan nasi terlebih dahulu dan setelah acara.Selesai harus membawa sadukun yaitu segenggam nasi jagung yang dibungkus daun pisang.Sadukun tersebut nantinya disebarkan disawah masing – masing  agar tumbuh subutr.

            Dalam upacara Ngasa akan ada beberapa kesenian lain yang menyertainya, yaitu seperti Perang Centong  yang merupakan  peperangan antara Gandawangi dan Gandasari yang menggambarkan keangkaramurkaan dan kebaikan.Tari Nenandur  yang menggambarkan aktivitas warga Jalawastu sebagai petani.Anak-anak bergembira menari lincah ceria , berterbangan lepas tanpa beban yang digambarkan dengan tari Manuk Dadali.Tari Dendongpun tak luput untuk menggambarkan para ibu yang sedang menumbuk padi di lesung.Sementara itu lima orang pemuda memainkan tari rotan gila , dikenal masyarakat Jalawastu yang berbahasa sunda tersebut dengan sebutan tari Hoe Gelo (Hoe : Rotan / Gelo: Gila). Hoe gelo ini menunjukan kegembiraan pemuda setelah panen serta mengasah kekuatan setelah makan hasil bumi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perpecahan dalam kubu Sarekat Islam

Tradisi Sekaten