Tradisi Sekaten


            Sudah menjadi kebiasaan masyarakat umum bahwa memperingati hari kelahiran selalu identik dengan perayaan. Salah satunya ialah hari kelahiran Nabi Muhammad SAW atau banyak dikenal Maulud Nabi yang jatuh setiap  tanggal 12 Rabiul Awal. Apabila melihat kalender masehi maka pada tahun ini Maulud Nabi jatuh pada tanggal 28 Oktober. Biasanya dalam memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW setiap  daerah selalu merayakan dengan ciri khasnya masing-masing.

            Di Yogyakarta misalnya, perayaan maulud nabi lebih dikenal dengan Sekaten. Sekaten berasal dari kata syahadatain yang berarti dua kalimat syahadat. Secara kultural, pada awalnya Sekaten  dibuat untuk media dakwah yang dilakukan oleh para wali untuk menyebarkan Agama Islam kepada masyarakat melalui alat musik yang kemudian sering disebut dengan gamelan. Namun untuk memecah perhatian masyarakat, pihak Belanda mengadakan pasar malam yang berisi hiburan masyarakat. Munculnya pasar malam pada perayaan Sekaten baru sekitar tiga puluh tahunan terakhir setelah sempat sebelumnya vakum.

            Keberadaan pasar malam tersebut terus berkembang setiap tahun hingga memunculkan penafsiran baru namun menurut hemat penulis masih terlalu cenderung salah kaprah dalam hal memaknai Sekaten. Sekaten yang berkembang sekarang ini justru lebih menonjolkan hiruk pikuk pasar malam yang diadakan di Alun-Alun Utara ketimbang prosesi Sekatenan itu sendiri. Banyak masyarakat justru lebih memilih berbondong-bondong mendatangi Alun-Alun Utara untuk berbelanja barang-barang murah atau sekedar refeshing ketimbang menyimak prosesi tradisi Sekatenan. Berbagai wahana permainan tidak pernah absen dalam memeriahkan pasar malam dalam perayaan Sekaten.

Selain itu banyak ditemukan dengan mudah berbagai penjual mulai dari makanan,minuman,sepatu, sampai baju bekas yang di jual murah. Namun, tampaknya ada yang berbeda dengan Sekaten Tahun ini. Atas saran Sultan HB X, Pasar Malam Perayan Sekaten diberhentikan sementara untuk mengembalikan makna Sekaten  serta  memperbaiki kondisi Alun-Alun Utara. Berdasarkan Keputusan Pemkot Jogja Pasar Malam Pearayaan Sekaten hanya diadakan setiap 2 tahun sekali. Meskipun begitu Sekaten haruslah tetap seramai biasanya. Banyak kegiatan yang  diadakan di sekitar Alun-Alun Utara. Salah satu acaranya Miyos Gangsa, yaitu prosesi  awal dimulainya Sekaten dengan di keluarkannya gamelan Kanjeng Kiayai Gunturmadu dan Kanjeng Kiyai Nagawila dari Keraton menuju Pagongan Masjid Agung.Selain itu terdapat acara lain seperti Gladhi Prajurit di Alun-Alun Utara,Numplak Wajik di Panti Pareden Kompleks Magangan. Pembacaan Riwayat Nabi di Serambi Masjid Gedhe,Kondur Gangsa di Masjid Gede,Grebeg Maulud di Alun-Alun Utara dan Pameran Sekaten di Bangsal Pagelaran.Dengan acara tersebut diharapkan bahwa  dapat mengembalikan makna Sekaten yang semapat  kehilangan jati dirinya.

Dibalik kemeriahan Sekaten tiap tahunnya terdapat makna-makna tersirat dalam prosesinya. Salah satunya Grebeg Mulud yang mengeluarkan  7 buah gunungan yang dibagikan ke tiga tempat,yaitu  lima buah gunungan yakni Gunungan Kakung,Gunungan Estri,Gunungan Gepak,Gunungan Darat dan Gunungan Pawuhan yang di arak menuju halaman Masjid Gede.Untuk dua buah gunungan lain yakni Gunungan Kakung masing-masing dibagikan ke Puro Pakualaman dan Kepatihan.Gunungan  tersebut biasanya berisi buah dan sayur sebagai representasi dari hasil buah serta jajanan.Pada Grebeg Mulud,gunungan  menyimbolkan sedekah dan kemakmuran dari raja yang dibagikan kepada rakyatnya,sehingga tiap kali acara Grebeg Mulud dilakukan banyak masyarakat berbondong-bondong untuk mengambil gunungan setelah acara selesai atau ngalap berkah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perpecahan dalam kubu Sarekat Islam

Tradisi Ngasa Kampung Jalawastu Kabupaten Brebes